Kontribusi KADIN BABEL dalam Ketahanan Pangan di Tengah Terpaan “Badai Ekonomi”

0

Hotel Santika 14 Januari 2016

Oleh: Ir Thomas Jusman MM

Ketua Umum KADIN Provinsi Kepulauan Bangka

Belitung

Ke Pantai Pasir Padi, kita jalan-jalan

Singgah dulu memetik buah mangga

Bersama BI laksanakan FGD ketahanan pangan

Dengan Spirit BERGEMA menuju negeri sejahtera

 

 

PENGANTAR

 

PANGAN bukan lagi hanya merupakan kebutuhan dasar manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis dalam kebutuhan Maslow, namun lebih dari itu.

 

Sensitivitasnya tatkala kebutuhan pangan tidak dipuaskan akan memicu terjadinya gejolak sosial dan politik yang berimbas pada kehidupan menyeluruh. Maka pangan bukan lagi komoditas ekonomi semata namun semakin berdimensi sosial politik yang luas.

Maka ketahanan pangan sejatinya menjadi komitmen strategis Negeri Serumpun Sebalai untuk senantiasa memenuhi ketersediaan pàngan yang cukup baik dalam sisi jumlah dan mutu, aman, adil, merata dan terjangkau.

KADIN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengapresiasi Bank Indonesia Kepulauan Bangka Belitung yang memprakarsai FGD yang sangat signifikan dan bermakna ini. KADIN BABEL juga sekaligus mengucapkan terimakasih kepada BI yang mengulurkan tangan sinerginya, melibatkan KADIN BABEL berperan serta dalam diskusi dan pengambilan langkah-langkah Kebijakan Pangan Daerah yang kita cintai ini.

KADIN BABEL  – yang berkomitmen akan selalu hadir dalam peristiwa ekonomi – yakin dan percaya, dengan spirit BERGEMA, Bersama Bersatu Bergerak Maju, niscaya ketahanan pangan Negeri Laskar Pelangi akan semakin luar biasa.

Dalam ràngka Kebangkitan KADIN BABEL pasca mati suri, KADIN Babel mendorong dalam semangat kemitraan setiap upaya menuju kehidupan ekonomi yang lebih tangguh melalui 18 bidang yang diperankannya oleh para Wakil Ketua Umum dengan rentang kinerja profesionalitasnya masing-masing.

Dari 18 Bidang Kerja KADIN BABEL, dalam tema Ketahanan Pangan FGD kàli ini setidaknya KADIN terlibat dalam 6 bidang yakni: 1. Bidang Agribisnis, Perkebunan, Kehutanan 2. Bidang Kelautan, Perikanan dan Peternakan, 3. Perdagangan, 4. Perhubungan 5. Bidang Jasa Konstruksi, Konsultan dan Infrastruktur serta 6. Bidang Sosial dan Kesejahteraan Hidup.

KEPRIHATINAN DAN HARAPAN

KADIN BABEL kembali menyatakan Kepulauan Bangka Belitung lagi-lagi “Sudah jatuh tertimpa tangga.”  Selama hampir dua tahun pelambatan ekonomi, Babel juga mengalami kemerosotan harga timah. Ditambah lagi kwantitasnya juga menurun.

Semester II Tahun 2015 BPS mengeluarkan pernyataan: BPS Babel mencatat ekspor Bangka Belitung pada Bulan Agustus 2015 menurun drastis hingga 82,18 persen dibanding ekspor Bulan Juli 2015 yang mencapai US$ Rp 103,19 Juta.  Hal ini disebabkan Babel hanya ekpor non timah sebesar US$ 18,39 Juta.

Pada bulan Agustus 2015 perusahaan pertambangan timah di Babel tidak melakukan ekspor karena adanya ketentuan ekspor timah terbaru yaitu PERMENDAG NO 33 TAHUN 2015 yang sudah mulai berlaku 1 Agustus 2015. Tentu saja kondisi ekspor tersebut sangat berpengaruh pada sirkulasi perekonomian Babel yang rendah. 

Nilai ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan November 2015 hanya US$53,46 juta, menurun signifikan hingga 65,23 persen dibanding nilai ekspor bulan Oktober 2015 yang mencapai US$153,75 juta. Hal ini disebabkan karena ekspor timah yang turun tajam 71,57 persen menjadi US$38,26 juta. Sedangkan ekspor nontimah menurun 20,81 persen menjadi hanya US$15,20 juta.”

(Badan Pusat Statistik Babel)

 

“Timah merupakan ekspor terbesar yaitu berperan 82,38 persen dari total ekspor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.”

Angka-angka yang ditampilkan BPS tersebut membanggakan di satu sisi namun sekaligus mengkhawatirkan di sisi lain. Atas kondisi tersebut KADIN BABEL mengajak semua pihak, khususnya Pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten serta segenap institusi termasuk BI dan perbankan untuk melakukan perubahan dari kondisi Babel dari komposisi 80 persen : 20 persen ekspor menuju 50:50 dengan mendorong berbagai revitalisasi terhadap komoditas lada, sawit dan karet.

Akhir Tahun 2014 KADIN BABEL mencatat bahwa Kementerian Kesehatan  dalam Studi Diet Total di 33 propinsi menobatkan Kepulauan Bangka Belitung sebagai Tiga Provinsi Teratas Nasional dengan asupan kalori dan protein lebih dari 100 persen AKG (kelebihan kalori dan protein) bersama DKI Jakarta dan Kepulauan Riau.

Sumber kalori utama adalah serealia dan umbi-umbian. Untuk serealia konsumsi tertinggi adalah beras, disusul mie, olahan terigu, terigu, olahan beras, serta jagung dan olahannya.

Bagaimana dengan kondisi awal tahun 2016 ini? Apakah Babel masih mengulang success story menjadi tiga besar provinsi dengan asupan kalori dan protein yang melebihi 100 persen?

Diskusi ketahanan pangan yang diprakarsai oleh BI Babel ini menjadi bermakna tatkala daya beli masyarakat Kepulauan Bangka Tinggi melemah. Mampukah masyarakat terus bertahan? Dan sampai kapankah ketahanan pangan itu dimiliki oleh masyarakat? Serta quo vadis kebijakan elite pemerintah, legislatif dan swasta atas situasi dan kondisi seperti ini?

Ketahanan pangan bukan hanya masalah ketersediaan pangan yang mencakup produksi, cadangan dan pemasukan, namun juga distribusi/aksesibilitas fisik (mudah dijangkau) dan aksesibilitas ekonomi (terjangkau daya beli) serta kualitas gizi.
Pada kriteria Ketersediaan Pangan yang berasal dari produksi sendiri, kita masih prihatin karena pangan Babel masih bergantung pada supply Jawa dan Sumatera. Secara ketersediaan pangan yang meliputi beras dan non beras Babel masih bergerak pada angka belasan persen hingga 20 persen. Sisanya, bahan pangan Babel sangat tergantung pada impor dari Jawa dan Sumatera.

Berkaca pada kondisi riil yang mendera Babel sesungguhnya masih terbuka blessing in disguise, rahmat tersembunyi dari pelambatan ekonomi dan  kejatuhan harga timah di Babel. Momentum FGD yang mencerminkan sinergitas dari berbagai elemen ini hendaknya menjadi starting point kebangkitan mindset dan paradigma: MENUJU 50 Persen Swasembada Pangan.

QUO VADIS BABEL?

KADIN BABEL sangat menghargai upaya Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Distanbunak) bahwa tahun ini akan melanjutkan program cetak sawah di lima kabupaten yaitu Bangka Selatan, Bangka Barat, Belitung Timur, Belitung dan Bangka Induk untuk mengurangi ketergantungan beras.

Tahun 2015 dari data Distanbunak telah dicetak sawah  seluas 8.080 hektare dan telah berhasil ditanami padi dan Desember 2015 hasilnya meningkat 43 persen dibanding tahun 2014. Dan tahun 2016 ditargetkan pencetakan sawah baru 7.850 Ha bekerja sama dengan Korp Zeni TNI AD Korem 045 Garuda Jaya.

Target cetak sawah di lima kabupaten itu ditargetkan meningkatkan kebutuhan pangan hingga 25 persen. Sehinggapada tahun 2017 kebutuhan pangan di Bangka Belitung akan terpenuhi sekitar 50 persen.

Success story lainnya adalah panen raya padi Inbrida Padi Rawa (Inpara) 2, Inbrida Padi Sawah Irigasi (Inpari) 24 dan Inpari 29. Padi yang dipanen pada 15 hektar areal persawahan Danau Nujau Desa Gantung, Kecamatan Gantung, ini merupakan padi varietas unggul yang diujicobakan.

Menurut Kementerian Pertanian RI Padi Inpara 2, Inpari 24 dan Inpari 29 cocok untuk ditanam di Kabupaten Beltim. Ia bahkan menilai ketiga padi jenis ini sangat adaptif untuk dikembangkan di tanah Beltim yang cenderung berair dan memiliki  memiliki umur panen 111 hari.

Selain itu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Pelepak Pute, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung  mempunyai prestasi tersendiri. BUMDes Pute menjalankan  lini bisnis  berupa kebun sayur dan buah seperti semangka dan timun.

Ketiga contoh sukses dengan tiga variasi jenis pangan tersebut memberikan jalan terbuka kepada Kepulauan Bangka Belitung untuk mandiri dalam ketahanan pangan dengan penguatan kearifan pilihan lokal.

BEBERAPA REKOMENDASI

Mencermati berbagai situasi, kondisi dan kearifan lokal yang ada di Kepulauan Bangka Belitung KADIN BABEL menyampaikan beberapa rekomendasi antara lain:

  1. Perlunya perumusan kebijakan penganekaragaman makanan pokok yang berbasis makanan lokal. One Village One Product. Misalnya: Taman Nanas di Tua Tunu, Taman Buah Naga di Kayu Besi, Taman Gaharu di Bangka Tengah.
  1. Perlu kebijakan peningkatan potensi hasil laut sebagai sumber protein hewani bagi penduduk.
  1. Perlu dirumuskan kebijakan untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah melalui edukasi dan peningkatan ketersediaan sayuran dan buah dengan harga yang terjangkau.
  1. Perlu peningkatan dwelling time di pelabuhan yang semakin singkat serta perhubungan darat yang lancar sehingga harga stabil dan murah.5. Perlu ketegasan pemangkasan terhadap biaya tinggi dengan menghindarkan banyaknya pungutan resmi dan tak resmi.

 

KADIN MENDORONG BERBAGAI REVITALISASI

Dalam rangka aktif berperan dalam ketahanan pangan, KADIN BABEL mendorong revitalisasi sektor pertanian dan perkebunan karena kejayaan di dua sektor itu berimplikasi pada lokomotif perekonomian yang nyata:

  1. Penyediaan bagi 1,3 juta penduduk,
  2. Penyediaan bahan baku industri,
  3. Penyumbang PDB,
  4. Penghasil devisa negara,
  5. Penyediaan lapangan kerja,
  6. Peningkatan pendapatan petani
  7. Pelestarian lingkungan hidup
  8. Secara empiris sebagai katup pengaman
  9. Pengentasan kemiskinan dan jaring pengaman sosial.

 

BERBAGAI JENIS REVITALISASI:
1. Revitalisasi Lahan
2. Revitalisasi Pembenihan dan Pembibitan
3. Revitalisasi Infrastruktur dan sarana
4. Revitalisasi SDM 5. Revitalisasi Pembiayaan Petani
6. Revitalisasi Kelembagaan Petani
7. Revitalisasi Teknologi dan Industri Hilir.

Contoh: Pabrik Tepung Tapioka telah membawa multieffek pada mata rantai mulai dari revitalisasi lahan hingga teknologi dan industri hilir. Komoditas lada dan buah naga misalnya juga bisa didorong bermultieffek serupa.

REVITALISASI/REKAYASA SEKALI KAYUH DUA PULAU TERLAMPAUI

Dalam rangka ketahanan pangan, KADIN BABEL mengajak semua pihak untuk bermindset out of the box; yakni memperjuangkan ketahanan pangan sekaligus menciptakan etalase pariwisata.

Contoh sukses ini sudah dilakukan oleh WKU KADIN BABEL, Johan Riduan Hasan, Owner Bangka Botanical Garden (BBG). Penerima Kalpataru  itu berjuang mengawinkan berbagai rekayasa agro dengan wisata serta merenda mata rantai  revitalisasi dari lahan idle menjadi kawasan hijau dengan paduan agrobisnis, perikanan, peternakan, perkebunan serta pelestarian lingkungan hidup yang asri untuk pariwisata.

KADIN BABEL dan para pengusaha yang tergabung dalam KADIN BABEL mendorong bench mark BBG di tiap kabupaten, kecamatan, bahkan desa. One village, one product tidak saja berfungsi sebagai ketahanan pangan tapi juga ekonomi dan pariwisata.

Sejak 2015 semua desa mendapatkan kucuran dana desa. KADIN Kota dan Kabupaten diharapkan mendorong dan menginspirasi desa agar memberikan added value pada desanya dengan kekhasan yang dimiliki. Misalnya: Taman Rias dengan Beras Merahnya serta kuliner berbasis beras merah, taman gaharu dengan cafe gaharunya, hutan Pelawan dengan kuliner madu serta kulatnya.

KARYA KONKRIT YANG DITAWARKAN KADIN
KADIN Indonesia dan KADIN Babel akan segera memotret potensi dan peluang ekonomi di Babel. Potret pemetaan ini dibarengi dengan karya-karya konkrit yang menggugah kreativitas dan kesadaran masyarakat untuk mulai mandiri berswasembada pangan.

Maka bersama institusi Pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten serta BI dan Perbankan, KADIN BABEL mengajak untuk:

  1. Pemberdayaan UKM
  2. Pemberdayaan Ketahanan Pangan sebagai common goal.
  3. Tumbuhkan Jiwa Pahlawan Pangan
  4. Kontes Desa Tahan Pangan/Lumbung Pangan

Kontes Desa Mandiri Tahan Pangan dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mendorong semangat, kreativitas, dan partisipasi masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam upaya mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Selain itu, kontes juga memberikan motivasi kepada aparatur pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa untuk memacu daerah dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan di daerah.

  1. Contest Variasi Resep Kuliner berbahan lokal seperti

Roasting Taleus Belitung, Sup Udang Labu Kuning, Lontong Talas Opor Ikan Tuna, Steak Lada Putih, Es Laskar Pelangi, Nasi Merah Bakar BI, Kue Lapis KADIN dan sebagainya.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kemandirian Pangan merupakan kemampuan masyarakat Bangka Belitung dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari daerah sendiri dan  dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.
Hingga kini ketergantungan pangan masyarakat Kepulauan Bangka Belitung terhadap daerah Jawa dan Sumatera masih sekitar 80 persen. Setidaknya tiga misi yang harus segera diimplementasi oleh Babel untuk mengejar ketertinggalan dalam hal ketahanan pangan.

Pertama,  peningkatan ketahanan pangan dengan peningkatan subsistem ketersediaan, distribusi, konsumsi dan keamanan pangan. Kedua, pengembangan sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan sesuai karakter, budaya lokal  dan kebutuhan petani, nelayan dan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Misi ketiga, pengembangan sistem pengelolaan ketahanan pangan dan penyuluhan yang sesuai dengan prinsip- prinsip tata kelola pemerintahan yang baik dan benar (good governance).

Ketiga misi ini memerlukan kerjasama pemerintah daerah dengan berbagai komponen masyarakat (pengusaha, perguruan tinggi, LSM, organisasi profesi, pemuka agama) dalam meningkatkan ketahanan pangan seperti:

  1. meningkatkan sinkronisasi kebijakan/program serta koordinasi antara pusat dan daerah,
    b. mempercepat perbaikan dan perluasan infrastruktur untuk mendukung logistik pangan,
    c. mempermudah akses UMKM kepada sumber permodalan,
    d. mengimplementasikan Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSP) untuk mensederhanakan perijinan, dan
    e. mengintroduksikan kepada petani sistem sertifikasi produksi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh jaminan mutu dan keamanan pangan.
  2. penguatan koordinasi lintas SKPD dalam kabupaten/kota dan antara kabupaten/kota dengan propinsi dalam menangani permasalahan gizi di masyarakat;
    g. pelibatan seluruh stakeholder pangan (dunia usaha, perguruan tinggi dll) dalam melaksanakan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pangan dan Gizi; dan
    h. pembangunan sistem informasi pangan pusat dan daerah yang terintegrasi dan aman.
  3. meningkatkan produktivitas dan luas tanam melalui peningkatan indeks pertanaman (IP);
    j. mempertahankan lahan produktif dan menambah lahan pertanian baru untuk meningkatkan produksi pangan nasional;
    k. meningkatkan produksi padi, jagung dan kedele melalui perbaikan dan pembangunan infrastruktur sesuai kebutuhan daerah; dan
    l. mengembangkan potensi keragaman sumber pangan lokal sebagai sumber pangan pokok non beras serta meningkatkan kesadaran penerapan keamanan pangan
    m. meningkatkan produksi pangan lokal untuk meningkatkan ketersediaan pangan pokok non beras dan memperkuat konsumsi pangan nasional;
    n. meningkatkan kualitas produksi pangan melalui pemanfaatan sumberdaya yang efisien dan ramah lingkungan;
    o. meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha pangan terutama petani, nelayan dan pembudidaya ikan disertai perbaikan kualitas pangan dan gizi masyarakat; dan
    p. menumbuhkan budaya keamanan pangan pada pelaku produsen dan konsumen pangan.

 

FGD Ketahanan Pangan merupakan momentum kristalisasi ide dan perwujudannya dalam sinergi semua unsur negeri. KADIN BABEL yakin sinergitas itu memungkinkan kita berjuang bersama, bersatu bergerak maju.

 

Sejak  Negeri Serumpun Sebalai dicipta

Berlimpah sandang, berlimpah papan

Nenek moyang nikmati pada jamannya

Kini, ketahanan pangan kita perjuangkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share.

About Author

Avatar

Leave A Reply