KEK Tanjung Kelayang Wisata Kian Terangsang

0

KADINBABEL — BLESSING Novel dan Film Las­kar Pelangi karya Andrea Hi­rata memang tak terbantahkan. Booming wisata Kepulauan Bangka Belitung yang terdampak oleh Laskar Pelangi membukakan mata dunia dan mata kita semua atas adanya The Last Paradise in The World; “surga dunia yang terakhir” yang selama ini tersem­bunyi di Negeri Laskar Pelangi.

“Surga dunia terakhir” yang tersem­bunyi itu antara lain Pantai Tanjung Pe­sona, Pantai Parai Tenggiri, Pantai Ti­kus, Pantai Teluk Uber, Pantai Matras, Pantai Romodhong, Pantai Tanjung Penyusuk, Pantai Pasir Padi, Pantai Beting Pulau Panjang, Kolong Kaolin Dwiwarna.

Sedang di Belitung surga dunia yang terakhir itu antara lain Pantai Tan­jung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas, Bukit Berahu, Pantai Punai, Pantai Pasir, Danau Kaolin, Pan­tai Penyabong, Pantai Nyiur Melambai.

Anugerah keindahan alam tak ter­kira yang merupakan jumbai-jumbai indah hampir di sebagian besar pantai Bangka dan Belitung itulah yang mem­buat semua pihak jatuh hati pada Neg­eri Serumpun Sebalai. Para pemangku kepentingan pun berfikir keras melaku­kan reposisi dan rebranding atas Kepu­lauan Banga Belitung yang selama puluhan tahun telah memberikan jasa budinya kepada negara ini.

Akhirnya salah satu kawasan “sur­ga dunia yang terakhir” yaitu Tanjung Kelayang ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus berdasarkan Peratur­an Pemerintah No.6 Tahun 2016 tang­gal 15 Maret 2016 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Ke­layang. Tanjung Kelayang merupakan kawasan pantai berpasir putih nan lem­but di Utara Pulau Belitung berpadu dengan batu-batu granit raksasa yang pernah menjadi lokasi pembuatan Film Laskar Pelangi.

Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) merupakan salah satu bentuk fasilitasi pemerintah dalam upaya pengemban­gan pusat pertumbuhan untuk men­dukung Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia dan untuk mening­katkan penanaman modal melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrate­gis; memaksimalkan kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi; mempercepat perkembangan daerah; dan sebagai model terobosan pengembangan kawasan untuk

pertumbuhan ekonomi, antara lain industri, pariwisata, dan perdagangan sehingga dapat menciptakan lapangan peker­jaan.

KEK Tanjung Kelayang telah lulus dalam tahapan pen­gusulan KEK dan penetapan KEK oleh Dewan Nasional KEK melalui Peraturan Pemer­intah. Kini Pemerintah Daerah Bellitung dan Provinsi serta Swasta ditantang untuk segera melakukan pembangunan KEK, pengelolaan KEK, dan evaluasi pengelolaan KEK.

Monitoring dan evaluasi oleh Dewan Nasional KEK menjadi penting untuk men­dukung kelancaran dan kete­patan pelaksanaan penye­lenggaraan KEK serta untuk mencegah sedini mungkin terjadinya penyimpangan, pemborosan, penyalahgunaan, hambatan, kesalahan, dan keg­agalan dalam penyelenggaraan KEK.

Lewat PP Nomor 6 terse­but, Presiden memerintahkan agar dibangun fasilitas penun­jang pariwisata di Tanjung Kelayang dalam jangka waktu tiga tahun sejak peraturan diun­dangkan. Selanjutnya, Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus akan melakukan eval­uasi setiap tahun terhadap pembangunan di Tanjung Ke­layang yang terkenal dengan keindahan pantai dan alam bawah lautnya tersebut.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan delapan wilayah yang masuk dalam KEK. Kedelapan daerah terse­but yakni KEK Sei Mangkei di Sumatera Utara, KEK Maloy Batuta di Kalimantan Timur, KEK Palu di Sulawesi Ten­gah, KEK Morotai di Maluku Utara, KEK Tanjung Api-Api di Sumatera Selatan, KEK Tanjung Lesung di Banten, KEK Mandalika di Nusa Teng­gara Barat, dan KEK Belitung di Sulawesi Utara.

Presiden Jokowi, dalam rapat terbatas beberapa wak­tu lalu, meminta kehadiran KEK diperkuat karena dapat merangsang pertumbuhan ekonomi termasuk pertumbu­han pariwisata.

“Kita harapkan dengan KEK ini akan ada arus mod­al masuk, ada arus investasi msuk sehingga akan membuka lapanngan pekerjaan yang se­besar-besarnya,” ujar Jokowi.

Macet KEK Dicabut

KEK memang akan men­ciptakan pusat-pusat pertum­buhan ekonomi baru untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Kepulauan Bang­ka Belitung. KEK Tanjung Kelayang tersebut memiliki luas 324,4 Ha terletak dalam wilayah kecamatan Sijuk, Ka­bupaten Belitung dan merupa­kan kawasan pariwisata.

Berdasarkan Peraturan Pe­merintah tersebut maka badan usaha pengusul KEK Tanjung Kelayang harus melakukan pembangunan hingga siap beroperasi dalam jangka wak­tu paling lama 3 (tiga) tahun sejak Peraturan Pemerintah tersebut diundangkan.

Apabila dalam jangka wak­tu tersebut belum siap berop­erasi maka Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus akan melakukan (i) peruba­han luas wilayah atau zona, (ii) Perkembangan Ekonomi Makro Regiona memberikan perpanjangan waktu selama 2 (dua) tahun, (iii) penggantian badan usaha, dan/atau (iv) pengusulan pembatalan dan pencabutan KEK Tanjung Ke­layang.

Tahun ini Belitung yang menerima previlege menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Bagaimana dengan Bangka? Harus ada kompen­sasi dalam Politik Anggaran di Bangka misalnya pening­katan signifikan anggaran un­tuk pariwisata Bangka sem­bari mengusulkan KEK untuk Bangka.

KEK Rp 18 Triliun dan Bandara Internasional di Be­litung hendaknya melecut praktisi pariwisata Bangka untuk think out of the box mengejar Belitung yang ter­fasilitasi lebih baik itu. Maka tidak berlebihan dan bukan utopia manakala Bangka memperjuangkan dibangun­nya Jembatan Bangka Suma­tera (BATERA) yang akan menjadi multi solusi bagi berbagai persoalan Bangka.

Pada prinsip memper­juangkan keseimbangan Bangka dan Bellitung itu­lah pula sesungguhnya para kandidat Gubernur 2017 di­tantang; Aksi visioner apa yang akan dilakukannya tat­kala menjadi Gubernur 2017 – 2022. Kepulauan Bangka Belitung sekarang ini me­merlukan strong leadership yang wajib bekerja secara luar biasa karena problem Babel juga sudah luar biasa (parah, melemah secara ekonomi).

Tugas pemimpin daerah ke depan adalah menciptakan “KEK KEK” yang lain se­lain KEK Tanjung Kelayang. Maka ketika Dewan Ekonomi KEK Nasional mengancam mencabut KEK manakala tidak berjalan, pesan moral­nya adalah semoga pemerin­tah daerah dan swasta segera melakukan action plan secara transparan kepada publik se­hingga KEK janganlah men­jadi angin surga yang hilang tertiup oleh ketidakseriusan para penyelenggaranya. Ja­dikan rangsangan KEK itu menjadi rangsangan mencip­ta harapan akan pertumbuhan ekonomi wisata baru. Semo­ga! ( berbagai sumber/agus KADINBABEL)

Share.

About Author

Avatar

Leave A Reply