KADIN BABEL Ajak Investasi di Babel

0
  • Mou KADIN BABEL – KADIN Qoazhou dan Qinyuan
  • Kunjungan Wisata Sejarah dan Wisata Bisnis

SUNGAILIAT, KADINBABEL — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kepulauan Bangka Belitung, Ir Thomas Jusman MM mengajak KADIN Gaozhou dan Qingyuan, Oversea Chinese Enterprises Association (OCEA) selain melakukan wisata sejarah juga melakukan investasi di Kepulauan Bangka Belitung.

Ajakan itu disampaikan ketika KADIN Kepulauan Bangka Belitung menerima kunjungan dalam acara Makan Malam Silaturahmi dengan melakukan penandatangan Memorandum of Understanding,  Senin (13/6/2016) malam di Tanjung Pesona Beach Resort and Spa Sungailiat.

Hadir pada malam silaturahmi tersebut antara lain Ketua Bapeda Babel, Dr Yan Megawandi, Sekda Bangka, Ferry Insani, Wakil Ketua Umum KADIN Babel, Rusli Melvina, Isnawaty Hadi, Agus Ismunarno serta para Komtap lainnya seperti Lukman Hakim Zulfandi, Evri Susanto, Dustin Wyrmand, Ratih Wahyuningsih.

Dalam sambutannya yang bertema harmonisasi sejarah dan bisnis, Thomas Jusman mengakuiJumat, 25 November 2011 | 03:27 WIB

kunjungan KADIN Gaozhou & Qingyuang ini bagi KADIN BABEL merupakan sebuah kehormatan sekaligus sebuah kebanggaan.

“Kunjungan ini menjadi semakin bermakna bagi KADIN BABEL dan Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung serta Pemerintah Daerah karena dikunci dengan sebuah MoU yang bertujuan mulia; kerjasama bisnis yang pastinya akan memakmurkan Masyarakat Kepulauan Bangka Belitung pada saatnya nanti,” kata Thomas Jusman.

“KADIN BABEL menyampaikan Selamat Datang di Negeri Penuh Harmoni ini! Kunjungan Anda sejatinya kunjungan wisata sejarah dan kunjungan bisnis yang sangat istimewa, karena Anda berkunjung di The Last Paradise in The World, Negeri Tong Ngien Fa Ngien Jit Jong!” ungkap Thomas.

Di Bangka, kata Thomas, ditemukan tiga bahasa di setiap nama jalan; dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan Bahasa Mandarin. Kebijakan yang diterapkan sejak tahun 2006 tersebut sengaja dilakukan pemerintah guna menunjukkan dan memberi pesan kepada masyarakat luas bahwa daerah itu dihuni warga berbagai suku dan agama, khususnya Melayu dan Tionghoa yang semuanya memiliki posisi setara.

Thomas Jusman yang juga Ketua Real Estate Indonesia (REI) Babel itu mengungkapkan, “Harmonisasi antarwarga Melayu dan Tionghoa di Bangka begitu kental dan mesra. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak nenek moyang kami sehingga kami wajib merawatnya.  Sudah menjadi kenyataan sejarah, antara Bangka dan masyarakat Tionghoa sudah seperti dua sisi mata uang. Di pulau ini, kelompok masyarakat Tionghoa telah menyatu dengan tanah setempat selama ratusan tahun.”

Dari catatan sejarah, Masyarakat Tionghoa mulai hadir di Pulau Bangka selama periode 1757-1776 atas kehendak Sultan Ahmad Najamuddin Adikusumo, putra Sultan Mahmud Badaruddin II, yang saat itu memimpin Kerajaan Sriwijaya. Tujuan utama mendatangkan mereka adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas pengolahan timah sebab warga Tionghoa dinilai lebih terampil dan sudah menguasai teknologi penambangan timah.

Gelombang berikutnya didatangkan lagi para petani, tukang jahit, dan tukang kayu. Kehadiran beragam profesi itu dimaksudkan agar terjalin hubungan yang lebih luas antara warga asal Tiongkok dan masyarakat setempat.

Maka sesungguhnya, “Anda semua sekarang ini sedang melakukan kunjungan sejaran, mengunjungi keluarga Anda sendiri yang ratusan tahun berdiam, hidup dan bekerja di Babel, The Last Paradise  in The World.”

Pada kesempatan itu Thomas Jusman memaparkan kondisi perekonomian dan harga timah Babel. Babel, kata Thomas, sangat terimbas oleh kebijakan pengereman Tiongkok dari 12 persen ke 7,5 persen dan kenyataannyaannya turun hingga 6 persen yang akhirnya berpengaruh pada turunnya harga timah dan menyebabkan pelambatan ekonomi di Babel.

Maka Thomas berharap para pengusaha di Tiongkok bersedia berinvestasi di bidang pariwisata, kelautan dan perikanan maupun peluang lain seperti energi dan lain-lain.

Sementaraa Kondisi Babel yang harmonis juga disampaikan Kepala Bapeda Babel Dr Yan Megawandi kepada para pengusaha asal Gaozhou dan Qingyuan. “Babel merupakan contoh harmonisasi dan  tempat asimilasi yang baik antara suku Melayu dengan Tionghoa serta suku lainnya  di Babel,” ungkap Yan.

Selain itu Yan mengatakan, “Negeri ini memiliki Tiga Putih: Logam Putih (timah), Lada Putih (Muntok White Pepper) dan Pasir Putih (pantai-pantai). Kami juga menamakan Provinsi kami ini Provinsi Laskar Pelangi. Kami berharap Anda semua menikmati keindahan Babel dan silakan berinvestasi sesudah melihat potensi yang disepakati dengan Babel. Kami ingin ke depan membangun daerah ini menjadi daerah pariwisata,” harap Yan Megawandi.

Huang Rongmeng, Chairman Qingyuan Overseas Chinese Enterprises Association, mengatakan kedatangannya ke Bangka bersama 19 pengusaha dari Gaozhou dan Qingyuan ingin mengenang dan melakukan wisata sejarah.

Pria kelahiran Bangka itu mengatakan, “Saya lahir di sini dan kini mengajak teman-teman pengusaha/investor. Ada dua tujuan. Pertama, berinteraksi dengan orang Tionghoa yang ada di Bangka dan kedua untuk menjajaki kerjasama dengan para pengusaha di Bangka.”

Selama ini hubungan Pemerintah Cina-Indonesia sudah melakukan kerjasama yang baik. Huang Rongmeng yang berbaju cual Bangka itu mengatakan, “Kami ingin tahu apa saja yg bisa kami lakukan untuk kerjasama.”

Liang You Yau dari Gao Zhou Overseas Chinese Enterprises Association, menilai Bangka tempat yang indah. “Kami bisa bekerjasama disini. Kami juga berharap teman-teman di Bangka bisa datang ke Cina. Kami berharap datang ket empat kami untuk berwisata dan bekerjasama dengan orang-orang di Bangka,” kata Liang You Yau.

MOU KADIN – Penandatangan Memorandum of Understanding antara Kadin Babel dengan Gaozhou dan Qingyuan Overseas Chinese Enterprises Association ini dihadiri juga oleh Pengusaha Bangka Jusman Ngui, Ketua Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Air Kenanga Yusri, Ketua Bapeda Dr Yan Megawandi, Sekda Bangka H Fery Insani. (Agus KadinBabel)

Share.

About Author

Avatar

Leave A Reply